Table of Content

Seseram Apa Sih Film Mumun?



Kali ini, ‘Mumun’ sang pocong kembali ke layar lebar. Film ini diadaptasi dari serial TV di tahun 2002, tentunya kembali dengan cerita yang masih sama, lho. Tayang perdana pada 1 September 2022, film horor Indonesia ini disutradari oleh Rizal Mantovani dan juga diproduksi oleh Dee Company.

Didukung dengan aktris Acha Septriasa, Dimas Aditya, Volland Humonggio, dan juga kembalinya para pemeran asli H. Mandra dan Addies Adellia.

Nah, berikut ini kita akan membahas mengenai review film Mumun. Jadi, pastikan sebelum kamu dan keluarga menonton film tersebut, simak dulu review Film Mumun berikut ini. Menarik nggak sih, untuk ditonton?

 

Sinopsis Film Mumun

Mumun (Acha Septriasa) memang sedang terlilit hutang akibat saudara kembarnya Mimin yang meminjam uang dengan jumlah besar kepada debt collector. Hal itulah yang membuat dirinya dikejar oleh debt collector bernama Jefri (Volland Humonggio) dan para komplotannya.

Mumun yang meninggal tertabrak oleh truk akibat kejaran Jefri, dikubur dengan kondisi tali pocongnya yang tidak dilepas oleh Hussein (Mandra). Hal tersebut yang menyebabkan Mumun gentayangan menjadi pocong. 

Awalnya, Mumun memang menghantui Hussein–si tukang gali kubur saja. Namun, pada akhirnya Mumun membalaskan dendam kepada Jefri dan terus mendatangi orang-orang untuk menagih hutang.

Banyak orang di desa tesebut mengetahui bahwa pocong Mumun gentayangan, sampai pada akhirnya Juned (Dimas Aditya) tahu tentang hal itu. 

 

Nostalgia Bagi Para Penonton Lama

Film ini diadaptasi dari serial televisi di tahun 2002 ini sangat pas untuk para penonton yang juga menonton serial TV-nya. Namun, bagi penonton umum dan muda, rasanya gaya film tersebut seperti kurang pas dan usang.

Nyala hijau yang ada di mata sang pocong, mengingatkan penonton ketika serial TV Mumun, apalagi Jefri yang menjadi musuh bebuyutan dari Mumun di akhir laga meregang nyawa dan menjadi pocong tandingan. Pada pocong Jefri memiliki nyala mata berwana merah, makin menguatkan untuk nostalgia cerita lama.

Genre horor yang membalut pada sosok pocong pun terasa begitu kurang. Bagi yang sempat menonton acara TV-nya yang terdahulu, akan merasa terhibur dengan nostalgia yang tersaji cukup banyak, bahkan si Husein dari Mandra sebagai tukang gali kubur kembali untuk mengulangi kecerobohannya.

Tidak hanya Mandra, sang Mumun asli (Eddies Adellia) juga ikut berperan dalam film ini sebagai cameo. Meskipun peran Eddies Adelia tidak begitu penting, tapi nostalgia mengenai sosok Mumun hingga terkenal begitu melegenda. Soundtrack dari serial TV-nya “Ribet pade ribet” pun berkumandang dalam beberapa adegan di film tersebut.

 

Pilih Mumun atau Mimin?

Untuk peran Mumun dan juga kembarannya Mimin–aktris Acha Septriasa–sudah tidak perlu diragukan lagi, bahkan dua karakter tersebut secara bersamaan cukup apik dibawakan oleh aktris muda tersebut. Dua karakter berbeda sukses ditampilkan oleh Acha, bahkan setelah Mumun mati, penonton masih dapat menyaksikan perbedaan dari saudara kambar ini.

Peran aktif dari actor Dimas Aditya sebagai kekasihnya yang bernama Juned menjadi pembantu yang mendorong dua karakter berbeda tersebut, bahkan hingga ketika menjadi Pocong, Mumun masih pilih-pilh dalam hal sasaran balas dendamnya.

 

Kadar Horor yang Kurang

Pocong yang seharusnya begitu menyeramkan malah menjadi suatu hiburan yang menyenangkan untuk mengusir para penagih hutang. Walau sinematografinya horor dengan latar hutan dan kampung, Pocong Mumun masih terbaur dengan lelucon para pemainnya, bahkan saat mereka merasa ketakutan sekalipun.

Pembangunan plot dari Mumun yang masih hidup hingga gentayangan juga tersaji begitu cepat hingga penyelesaian akhir untuk balas dendamnya terhadap Jefri. Sayangnya, karakter Jefri sepanjang film terlihat amat gabut dengan datang berulang kali hanya untuk menagih hutang saja.

Kegiatan Jefri yang datang dengan membawa ancaman demi ancaman terasa begitu membosankan, bahkan aksinya yang terlihat kejam pun hanya terlihat dalam beberapa adegan kasar saja. Makin terasa aneh lagi, kegiatan berulang dalam menagih para peminjam dan mengambil jatah preman juga, seakan-akan Jefri hanya mengurusi kampung itu saja.

 

Moderninasi dari Latar Film

Nuansa Betawi yang terasa begitu kental dipugar dengan menyesuaikan yang ada pada masa kini. Warung makan Mumun yang khas desa masih ramai dengan kumpulan para warga yang hanya suka dengan Mumun. Juned (Dimas Aditya) yang merupakan kekasih Mumun menjadi pekerja di konter handphone, ini yang akan berkaitan dengan Pinjol yang digunakan oleh Mimin.

Walaupun modernisasi untuk penyesuaian dengan masa kini, beberapa dari unsur latar berulang layaknya sinetron mingguan yang masih tersaji. Seperti suasana desa yang dikelilingi oleh kampung, yang membuat Pocong dari Mumun dapat merajalela melenggang menghantui Hussein dan juga Jefri. Namun, hal itulah yang menguntungkan untuk menebalkan nuansa horor film ‘Mumun’. Tetapi anehnya nuansa dari Betawi menjadi kontradiktif ketika Mimin yang bekerja di Jakarta. Lalu, di manakah latar sesungguhnya dari film ‘Mumun’ ini?

 

Kesimpulan

Plot cerita yang hampir sama dengan menampilkan beberapa dari para pemain asli serial TV, ‘Mumun’ menjadi sarana nostalgia horor yang bisa dibilang menyenangkan. Meskipun cetakan gaya lama ala sinetron tidak begitu bekerja pada layar lebar untuk sekarang ini.

Pemilihan aktris Acha Septriasa yang berperan sebagai Mumun begitu pas dan tak diragukan lagi. Walaupun perannya ketika masih hidup lebih ciamik daripada kecantikannya yang ada di dalam kain kafan bergentayangan.

Sisa dari karakter yang ada sangat pas untuk mengisi film horor ringan ini. Canda tawa akan lebih banyak dirasakan oleh penonton dibanding ketakutan saat melihat pocong Mumun.

 

Itulah review film Mumun yang dapat kita ulik. Menurut kamu, serem nggak nih, filmnya?


Review berbagai jenis film dan drama dari berbagai genre

Posting Komentar